Pileg: Diduga Money Politics, Somvir Dilaporkan ke Bawaslu Buleleng

Foto-Foto Balieditor.com-ngr: Masyarakat Kampung Anyar dan Kaliuntu lapor Caleg NasDem ke Bawaslu Buleleng

BALIEDITOR.COM – Sekelompok masyarakat daro Kelurahan Kampung Anyar dan Kaliuntu, Singaraja, Bali,ngelurug Kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Buleleng, Sabtu (20/4/2019).

Mereka melaporkan tindakan dugaan money politics yang dilakukan salah satu caleg DPRD Provinsi Bali dari Partai Nasional Demokrat (NasDem) nomor urut 10 8 Dr Somvir.

Aksi dugaan money politics terjadi pada Jumat (29/3/2019) lalu sekitar pukul 20.30 wita di rumah Carulus Bisman Bela alias Karel di Jalan Cendrawasih, Gang Tekukur, Kelurahan Kaliuntu, Buleleng.

Saat itu, Somvir sempat menghubungi Komang Edi Arta Wijaya untuk bisa mengumpulkan warga sekitar kelurahan Kampung Anyar dan Kaliuntu, dengan jumlah 30 orang.

Sekitar pukul 20.30 wita, Somvir pun datang bersama 3 rekannya ke rumah Karel. Disana, Somvir meminta warga yang datang untuk mencari suara dalam pencoblosan pada 17 April 2019 nanti untuk memilihnya pada pencoblosan sebanyak 100 suara. Ia berjanji 100 suara akan dibayar sebesar Rp100 ribu per suara.

Pertemuan itu berlangsung hingga pukul 22.00 wita. Usai pertemuan berlangsung, Somvir langsung menyerahkan uang sebesar Rp 500 ribu pecahan Rp50 ribu per lembar sebagai tanda jadi dan juga satu kotak kartu caleg bergambar Dr. Somvir kepada Karel dan Komang Edi.

Sejak saat itu, warga yang dititipi uang tersebut pun takut membagikan kepada masyarakat hingga hari pencoblosan berlangsung. Bahkan, Somvir sempat menghubungi Komang Edi menanyakan prihal data pemilih yang siap memilih Dr. Somvir.

“Saya takut membagikan uangnya itu, soalnya saya dengar informasi juga banyak orang-orangnya pak Somvir itu ditangkap warga lain katanya kedapatan bagi-bagikan uang,” kata Karel, ditemui di Sekretariat Bawaslu Buleleng.

Karena merasa takut, Karel dan Komang Edi memilih melaporkan aksi dugaan money politics yang langsung dilakukan Somvir ke Bawaslu Buleleng, ditemani beberapa warga lainnya. “Kami laporkan ini karena takut, apa lagi ada informasi jika membagikan uang bisa terkena hukum,” sambung Komang Edi.

Uang tunai sebesar Rp 500 ribu dan kartu caleg atas nama Dr. Somvir akhirnya diserahkan ke Bawaslu Buleleng sebagai barang bukti. Penyerahan barang bukti ini dibuktikan melalui surat tanda terima. Mereka pun berharap agar Bawaslu segera memproses dugaan money politics.

“Bawaslu tadi bilang kasusnya ini sudah kadaluwarsa. Tapi uang ini diserahkan untuk membeli suara pada 17 April, agar memilih dia. Karena saya mendengar informasi kalau bagikan uang, itu bisa kena kasus. Makanya saya takut, uang dan kartu caleg saya serahkan ke Bawaslu sebagai penegak aturan dalam pemilu ini,” ujar Komang Edi.

Edi bersama warga lainnya berharap, Bawaslu Buleleng segera memproses laporan tersebut. “Uang tadi sudah kami serahkan, dan harapannya diproses oleh pihak Bawaslu. Ini tujuannya, agar proses pemilu bisa benar-benar bersih dari adanya aksi money politics,” pungkas Komang Edi. (ngr/frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *