Pileg, Somvir: “Boleh Kecewa Tapi Jangan Cemburu”

Foto Balieditor.com-frs: DR Somvir saat diwawancarai Balieditor.com di kediamannya di Lovina

BALIEDITOT.CON – Diterjang isu money politics, DR Somvir caleg NasDem untuk DPRD PL Bali dari Dapil V Buleleng, menanggapinya dengan santai.

Caleg peraih 12.000 suara pada Pemilu 2019 itu menganggap isu kurang sedang itu sebagai sesuatu yang lumrah dalam kontestasi politik.

Saat ditemui Balieditor.com di kediamannya di kawasan wisata Lovina, Buleleng, Rabu (24/4/2019) sore, anak angkatan mantan gubernur Bali Dewa Berata itu menyatakan sangat memahami, kenapa isu dan laporan tersebut dilakukan.

”Sebagai Yogi, saya tahu dan memahami kenapa hal tersebut (laporan,red) dilakukan. Pertama, karena kecewa dan yang kedua pasti karena cemburu,” tandas Somvir sambil tersenyum dingin.

Kecewa, kata dia sangat lumrah dalam sebuah kontestasi politik dan bahkan pasti dialami oleh siapapun yang merasa gagal.

”Yang tidak baik itu cemburu, rasa ini lebih dari kecewa karena bisa saja bercampur dengan kebencian,” tandasnya.

Peraih gelar Doktor dengan penelitian Kitab Ramayana di Universtas Udayana ini justru mengapresiasi luapan rasa kecewa dan cemburu karena raihan suaranya pada Pemilu 2019 dilakukan melalui jalur dan regulasi yang ada.

”Apa yang membuat kecewa dan cemburu disalurkan dengan melapor ke Bawaslu, ini patut diapresiasi sebagai bagian pendidikan politik yang cerdas dan sehat bagi warga masyarakat,” ujarnya.

Mantan dosen Universitas Indonesia berharap, lembaga yang ada memberikan pelayanan yang baik bagi warga masyarakat pencari keadilan dan kebenaran dengan baik.”Karena dengan pemahaman terhadap aturan dan regulasi, politik di negara ini akan menjadi lebih baik,” tegasnya.

Somvir menyatakan semuanya diserahkan pada lembaga terkait, termasuk induk partai (NasDem,red).

”Karena saya tidak mencari kursi, tapi kursi yang mencari saya. Dulu, sewaktu jadi caleg dari PDIP tahun 2014, saya meraih suara 11.000 lebih dan diminta untuk mundur, saya terima. Saat ini jadi Caleg NasDem, menyumbangkan suara 12.000 pada Pemilu 2019 kepada partai, saya juga menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada partai,” katanya.

Demikian juga dengan proses hukum/laporan dugaan money politic di Bawaslu. ”Saya juga serahkan keputusan kepada lembaga terkait, karena saya berharap Pemilu bisa membahagiakan, menyehatkan dan mensejahterakan masyarakat, bukan membuat sakit dan menderita,” paparnya.

Ia mengaku bahwa suara maksimal yang ia raih itu bukan karena money politics tetapi itu hasil perawatan dan pemeliharaan Pendukungnya selama 4 tahun sejak ia gagal jadi anggota DPRD Bali 2014 lalu.

“Setelah gagal 2014 lalu, saya tetap memelihara pendukung saya. Dan mereka kompak sampai saat ini. Bahkan mereka yang berjanji memenangkan saya setelah saya dikerjain 2014 lalu, pungkasnya. (frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *