Polemik Jumlah Pegawai RSUD Buleleng Obesitas: Ditanggapi Secara Keroyokan oleh Humas Buleleng

Foto Dok Balieditor.com: Kabaghumas Made Supartawan (kanan kacamata) didampingi KSB Pemberitaan Cok Adithya WP

Foto Dok Balieditor.com: Kabaghumas Made Supartawan (kanan kacamata) didampingi KSB Pemberitaan Cok Adithya WP

BALIEDITOR.COM – Berita tentang jumlah pegawai terutama pegawai kontrak yang “over gemuk” alias obesitas, membuat Pemkab Buleleng kebakaran jenggot. Padahal dalam berita Balieditor.com itu sudah ada pernyataan dari Sekkab Buleleng Dewa Ketut Puspaka.

Namun pernyataan Sekkab itu tampaknya belum memuas, sehingga Bagian Humas dan Protokol Pemkab Buleleng menanggapi berita di secara keroyokan. Dikatakan keroyokan karena dua pejabat teras di Bagian Humas/Protokol yang memberikan tanggapan secara terpisah dan tanggapan mereka itu disampaikan melalui akun facebooknya masing-masing.

Kedua petinggi teras Bagian Humas/Protokol Buleleng tersebut adalah Kabaghumas/Protokol Made Supartawan dan Kepala Subbaggian Pemberintah Cok Adithya WP.

Pejabat yang pertama memberikan tanggapannya melalui akun facebooknya adalah Kabaghumas Supartawan. “Ya jangan dihitung “mentah2” seperti itu dong….kan perlu diperhitungkan jg tenaga dokternya, tenaga administrasinya, dll. Jangan hanya praduga2 sj, silahkan cek, komunikasikan, tenaga2 itu tugasnya apa biar tidak salah paham,” tulis Supartawan dalam akun facebook Supartawan beberapa saat setelah Balieditor.com memosting berita tersebut.

Baca Juga:  Buleleng Rancang UHC 100 Persen di Tahun 2019

Tidak lama kemudian, Kasubbag Pemberitaan Cok Adithya WP pun memosting tanggapannya. Cok Adithya menjelaskan bahwa besarnya jumlah tenaga kontrak yang direkrut RSUD Kabupaten Buleleng terdiri dari tenaga media dan non-medis.

“Besarnya jumlah tenaga kontrak yang direkrut oleh RSUD Kabupaten Buleleng yang terdiri dari tenaga medis dan non medis mengingat Badan Layanan Umum daerah (BLUD) RSUD Kabupaten Buleleng memberikan pelayanan 24 jam non stop sehingga ada tiga shift kerja pagi, sore dan malam serta libur setelah jaga malam,” jelas Cok Adithya.

Baca Juga:  Hari AIDS Sedunia, SMPN 3 Singaraja Bagi Brosur dan Pita ke Masyarakat

Selain itu, kata dia, mengingat topografi RSUD Buleleng yang naik turun sehingga dalam melaksanakan tugas, tenaga PHS (Pramuhusada)/tenaga yang mendorong pasien harus bekerja lebih dari satu orang. “Luas areal RSUD Buleleng yang lebih dari tiga hektar juga membutuhkan tenaga Cleaning Service (CS) yang banyak serta banyaknya pintu masuk memerlukan pengawasan yang lebih ketat untuk menertibkan pengunjung RSUD Buleleng sehingga diperlukan jumlah tenaga satpam yang banyak. Terlebih lagi saat ini RSUD Buleleng memberlakukan jam berkunjung bagi para pengunjung,” sambung Cok Adithya lagi.

Cok Adithya memaparkan bahwa kebutuhan tenaga administrasi pun terus mengikuti kebutuhan pelayanan yang dibutuhkan oleh masyarakat yaitu pelayanan prima dengan berbasis komputerisasi dan profesionalisme. “Mulai dari pelayanan administrasi di ruang admisi, ruang perawatan, loket pembayaran (keuangan), hingga administrasi perkantoran (tata usaha) dan bagian penunjang lainnya yang memerlukan banyak tenaga,” pungkas Cok Adithya. (frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *