Polemik Proyek Pasar Banyuasri: Kadis PUPR Bilang Perpanjangan Waktu Baru Rencana

SINGARAJA-BALIEDITOR.COM – Kritik anggota Komisi II DPRD Buleleng, Made Sudiartha, SH, soal perpanjangn waktu megaproyek Pasar Banyuasri Singaraja,ditanggapi Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kadis PUPR) Kabupaten Buleleng I Putu Adiptha Ekaputra.

Kadis Adiptha menjelaskan bahwa hingga saat ini belum ada keputusan memperpanjangn waktu pengerjaan proyek pembangunan Pasar Banyuasri hingga April tahun 2022. Kata itu, wacana perpanjangan waktu itu baru rencana mengantisipasi situasi terburuk.

“Jadi, belum ada perpanjangan, baru antisipasi. Jadi harus diukur, jangan sampai Ketika sudah parah baru kita bergerak. Itu yang mendasari, jadi tidak ada apa-apa, jadi murni kita mengelola proyek, jangan sampai Ketika sudah kejadian baru kita berpikir,” jelas Adiptha menanggapi kritik anggota Komisi II DPRD Buleleng Made Sudiartha.

Kadis Adiptha menceritakan panjang lebar rencana atau konsep perpanjangan waktu tersebut. “Kami di Dinas PUPR kan harus juga berpikir secara luas. Semua alternatif harus dipikirkan Dinas PUPR. Ini kan proyek strategis, nilai besar,” paparnya.

Dia menceritakan bahwa wacana perpanjangan waktu itu muncul karena ada beberapa dasar pertimbangan. Pertama, ada surat dari BNPB Nasional bahwa kondisi COVID-19 merupakan Kahar Non-alam masa waktunya 4 bulan. “Jadi dengan kondisi Kahar semua SOP pada COVID-19 semua, pekerja-pekerja dibatasi, ada social distancing, physical distancing, tidaka boleh dengan ramai-ramai, tidak boleh dengan banyak orang. Kami kan evaluasi juga,” papar Kadis Adiptha.

Baca Juga:  Lomba Desa Tingkat Bali: Umejero Jadi Duta Buleleng, Dinilai Tim Provinsi

Yang kedua, sebut Kadis Adiptha, surat dari Menkeu dan Mendagri terkait yang mengatur tentangrefocusing anggaran. Jadi, kata dia, karena sumber anggaran untuk proyek Pasar Banyuasri itu semua kena dampak. “Kita tidak boleh kaku kan. Ketika pemerintah pusat dan pemerintah daerah focus untuk rakyat kita juga harus fokus ke COVID-19,” tandasnya.
“Yang ketiga, kita di Dinas PUPR juga kena pemotongan, bukan hanya Pasar Banyuasri saja, hampir Rp 120 miliar di PUPR kena pemotongan refocusing,” ungkapnya.

Yang keempat, beber dia, anggara proyek Pasar Banyuasri dipotong Rp 56 miliar, sehingga dana yang tersisa saat ini cuma Rp 74 miliar. Menurut perhitungan dia, sisa dana Rp 74 miliar akan habis terpakai bulan Julimendatang. “Mungkin bulan depan yang Rp 74 miliar sudah habis. Namun si penyedia, dia pingin sekali kerja sesuai target waktu, dan kami pun juga pingin. Tapi kan kita berhitung ini, kalau pemeritah daerah tidak bisa bayar tahun ini kan bayar tahun depan,” tandasnya.

Baca Juga:  Miliki Potensi Alam-Budaya, Wisata SCTPB akan Diintegrasikan dengan Lovina

“Itu alasan yang mendasar kenapa kita juga ada rencana. Jadi belum ada perpanjangan, baru antisipasi. Jadi harus diukur, jangan sampai ketika sudah parah baru kita bergerak. Itu yang mendasari, jadi tidak ada apa-apa. Jadi murni kita mengelola proyek, jangan sampai Ketika sudah kejadian baru kita berpikir. Sekarang kan pasca new normal kan dibuka kembali ini. Jadi, pekerja sudah mulai masuk lagi, mereka akn kerja full lagi,” paparnya lagi.

Kadis Adiptha mengemukakan bahwa pihaknya tidak akan mengambil keptusan sendiri tetapi akan selalu koordinasi dan konsultasi dengan pimpinan dewan dan Komisi II DPRD Buleleng

“Kita akan cek kembali dengan teman-teman DPRD, kadang perubahan anggaran kan kita harus konsultasi juga dengan pimpinan DPRD juga, terutama Komisi II juga karena mereka membidangi. Kalau itu terjadi kita akan bahas dengan teman-teman di Komisi II, kita cari solusi terbaik, sepanjang semua legal, kenapa tidak,” pungkas Kadis Adiptha. (frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *