Politik: NasDem Rugi Kehilangan Kader Penyelamat Uang Rakyat Rp 98 M

Foto Ist: Nyoman Tirtawan

BALIEDITOR.COM – Figur Nyoman Tirtawan, anggota DPRD Bali, dari NasDem, sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Bali. Karena Tirtawan menjadi pahlawan penyelamat dana Pilgub Bali 2018 sebesar Rp 98 miliar.

“Teruntuk semua masyarakat Buleleng yang cerdas, berintegritas dan berkualitas wajib memilih Nyoman Tirtawan. Ternyata faktanya masyarakat bersikap fragmatis dengan menjatuhkan pilihan pada caleg situasional,” tandas Ngurah Fajar Kurniawan, tokoh mudah asal Desa Sudaji, Kecamatan Sawan, Buleleng.

Ketidakterpilihnya Tirtawan, beber Fajar, menimbulkan kerugian ganda bagi dua belah pihak. Yakni masyarakat Buleleng dan Bali itu sendiri karena tidak lagi memiliki wakil rakyat di Renon yang berani lawan arus dengan mayoritas anggota dewan oportunis dan berani menantang kebijakan eksekutif.

“Kedua, yang juga rugi atas tidak terpilihnya kembali ke Renon (Kantor DPRD Bali) adalah Partai NasDem sendiri. Karena sikap politik Tirtawan yang mengutamakan transparansi dan kepentingan rakyat telah mengangkat nama dan citra NasDem di mata public sehingga dengan tergusur Tirtawan dengan cara tidak demokratis maka Partai NasDem telah kehilangan asset emas nan berharga tersebut,” beber Fajar yang Senin (19/8/2019) kemarin tampil sebagai coordinator massa NasDem mengepung Sekretariat DPW NasDem Bali di Denpasar.

Massa NasDem serta public Bali kecewa, ungkap Fajar, karena justru petinggi Nasdem yang mengusung politik tanpa mahar itulah yang malah menerima mahar dari DR Somvir sebesar Rp 130 juta untuk menyingkirkan Tirtawan.
“Kami sebagai rakyat kecil sangat kecewa karena Pak Nyoman Tirtawan yang selama ini tampil sebagai pahlawan bagi rakyat kecil malah disingkirkan dengan cara keji,” tandas Dewa Jack, salah seorang warga dari Kelurahan Kampung Anyar.

Aktor utama di balik pemangkasan anggaran Pilgub Bali, Nyoman Tirtawan, kini harus tersisih karena “dizolomi” sesama caleg NasDem Buleleng untuk DPRD Bali. Tirtawan harus tersisih denga cara tidak demokratis.

Rasa kecewa juga diungkapkan kalangan ibu-ibu. Salah satunya adalah Ibu Linda, warga Kampung Baru, Singaraja. “Politik memang sangat kejam, orang baik-baik, jujur, dan berjuang murni untuk kepentinha rakyat seperti Pak Tirtawan malah harus disingkirkan oleh orang asing tidak berkeringat untuk masyarakat Buleleng. Ironisnya, pengurus NasDem malah membela politisi jahat yang merusak demokrasi dengan politik uang,” kritik Linda dengan nada kecewa didukung Ketut Tirta.

Inilah fenomena unik yang terjadi di jagat politik Republik ini. Perusak demokrasi malah menjadi idola dan dipilih rakyat. Tetapi kalau semua pihak di Bali masih percaya sama hukum karma pala maka sudah sepantas pimpinan Partai NasDem terutama Ketua DPW NasDem Bali dan mahkamah partai harus bertindak bijaksana untuk kembalikan posisi Tirtawan sebagai anggota dewan periode mendatang dan mencoret dan memecat DR Somvir dari keanggotaan Partai NasDem.

Linda menilai apa yang terjadi pada Tirtawan merupakan bukti masyarakat pemilih sudah kehilangan nurani dan pola pikir sehat. Ternyata masyarakat pemilih tidak memilih kembali NyomanTirtawan untuk kembali ke Renon sebagai wakil rakyat. “Aneh tapi nyata, anggota DPRD Bali yang menyelamatkan uang rakyat Bali sebesar Rp 98 miliar malah tidak dipilih rakyat,” ujar Linda yang mengaku menjadikan Tirtawan sebagai salah satu tokoh panutannya itu.

Bahkan siswa SMP juga mengkritisi petinggi NasDem yang tidak membela Tirtawan sebagai kader terbaik Partai NasDem. Seperti yang diungkapkan Kristian Rolando Tena, siswa SMPN 4 Sukasada, dan Floria, siswi SMPN 3 Singaraja. Para siswa ini dengan polos meminta Surya Paloh memecat Somvir dan memberikan peluang kepada Tirtawan untuk kembali ke gedung wakil rakyat Bali di Renon, Denpasar. “Pak Surya Palo bela dong Pak Tirtawan, jangan malah membela orang yang tidak dikenal kami,” ujar mereka dengan polos.

Semoga tragedy moral yang menimpa DPW Partai NsDem Bali menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat pemilih agar tidak ikut merusak moral anggota DPR. Semoga masyarakat pemilih tidak lagi menyumbangkan perilaku korup pada wakil-wakilnya baik di Renon (DPRD Bali) maupun di Senayan (DPR RI). (frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *