Rainbow Warrior Datang, Warga Demo Tolak Pembangunan PLTU Celukan Bawang Tahap II

Foto-Foto Balieditor.com-ngr: Kapal Green Peace Rainbow Warrior didemo warga Celukan Bawang

Foto-Foto Balieditor.com-ngr: Kapal Green Peace Rainbow Warrior didemo warga Celukan Bawang

BALIEDITOR.COM – Ternyataa warga di sekitar PLTU Celukan Bawang yang kontra megaproyek itu cukup jeli dan cerdas.

Kehadiran kapal Greenpeace Rainbow Warrior di Pelabuhan Celukan Bawang dimanfaatkan oleh mereka untuk menyampaikan penolakan mereka terhadap pembangunan PLTU tahap kedua.

Mereka menggelar aksi demo dengan pembentangan spanduk di perairan Celukan Bawang, bertepatan dengan berlabuhnya Kapal Greenpeace Rainbow Warrior.

Aksi yang dilakukan warga pada Selasa (17/4/2018) pukul 14.00 wita. Begitu kapal Rainbow Warrios tiba di perairan Celukan Bawang, langsung dikelilingi oleh perahu-perahu nelayan yang ditumpangi warga setempat, yang membentangkan spanduk dengan panjang kurang lebih lima meter, bertuliskan Laut Sehat Tanpa Batubara.

IMG-20180417-WA0033

Keluhan warga terhadap pembangunan PLTU Celukan Bawang, masih sama yakni persoalan batubara. Pasalnya, pembangkit listrik yang memanfaatkan batubara ini, dinilai merugikan warga, hingga merusak kawasan pertanian termasuk mencari laut.

“Nelayan harus mencari ikan lebih jauh ke dalam. Saya sebagai petani kelapa merasakan produksinya jadi berkurang. Kualitasnya menurun. Dulunya warna kelapa hijau gelap, sekarang menguning dan cokelat,” keluh Ketua Paguyuban Masyarakat Peduli Lingkungan (PMPL), Ketut Mangku Wijana.

Polusi udara yang ditimbulkan akibat batubara itu, kata dia, bahkan mengganggu kesehatan warga. Terlebih batubara yang disimpan di dalam dome dan dibakar, akan menimbulkan bau yang menyengat.

“Baunya itu berlangsung sekitar 15 menit. Kalau sudah cium itu, saya pasti batuk-batuk. Ini tidak setiap hari terjadi, hanya kadang-kadang saja,” jelas Mangku.

Meski begitu Mangku mengakui, dengan pembangunan pembangkit listrik ini, Bali memiliki cadangan listrik yang memadai. Hanya saja, ia bersama warga setempat lainnya berharap untuk pembangunan tahap kedua agar menggunakan energi yang ramah lingkungan.

Untuk diketahui, rencana pembangunan PLTU Celukan Bawang tahap dua sebesar 2 X 330 Mega Watt (MW), akan segera dilakukan. Namun warga setempat belum mengetahui kapan rencana itu dilakukan. Sebab, warga tidak pernah diundang terkait sosialisasi pembangunan tahap kedua tersebut.

“Tahap pertama saja kami tidak tahu. Apalagi yang kedua. Empat desa yang berdampak tidak pernah diundang untuk sosialiasi. Jujur, kami sudah bosan sampaikan ke pemerintah. Dulu ada sidak DPRD Buleleng, namun hasilnya tidak ada,” bebernya.

Untuk itu Mangku menegaskan, ia bersama warga lainnya menolak batubara digunakan oleh PLTU Celukan Bawang sebagai bahan pembangkit listrik. “Kami menolak batubara, bukan pembangkit listriknya. Bahannya ini yang kami tolak. Pembangunan tahap kedua juga kami tolak jika pakai batubara,” tegas Mangku. (ngr/frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *