Romo Benny: “Benih Panggilan yang Bersemi”

Foto Balieditor.com-frs: Romo Benny sedang memberikan komuni kepada umat saat misa tahbisan

BALIEDITOR.COM – Sebagai seorang peserta tahbisan, Romo Benny Beatus Wetty, SJ, mempunyai pandangan tersendiri tentang panggilan ilahi dari Allah Bapa di Surga yang disambutnya hingga menjadi imam.

Tentang pandangan dan pendapat Romo Benny Beatus Wetty, SJ, yang merupakan putra kedua dari Drs Petrus Wetty, asal Ngada, Flores NTT, yang sudah berkarya dan menetap di Gerokgak, Buleleng, Bali, sejak awal tahun 1980-an itu, redaksi Balieditor.com menurun pandangan Romo Benny secara utuh.

Pandangan Romo Beny itu tertuang dalam buku panduan tahbisan yang diterima Balieditor.com yang meliput langsung ke Gereja St Antonius Padua Kota Baru, Jogjakarta, 31 Juli 2019 lalu.

“Benih Panggilan yang Bersemi”, Benny Beatus Wetty, SJ

Benih panggilan menjadi seorang imam secara samar-samar tumbuh karena saya aktif di sekolah minggu dan menjadi anggota misdinar di Paroki St Paulus, Singaraja. Kesadaran ini perlahan-lahan muncul ketika saya menengok balik sejarah panggilan saya, sebab dua kegiatan itu secara natural ternyata mendekatkan saya yang masih anak-anak pada Gereja dan altarnya.

Dalam suasana samar-samar itu, peran keluarga dan pastor beserta umat paroki menjadi tanah subur untuk benih panggilan yang masih rentan itu. Bapak ibu saya selalu mendorong saya mengikuti kegiatan gerejawi dan menumbuhkan suasana rohani dengan doa bersama dalam keluarga.

Dan, pastor paroki saat itu, Romo Yan Tanumiardja, SVD, dengan setia menemani dan mendampingi kami, anak-anak paroki, dalam aneka kegiatan gerejawi. Karena itu, Gereja St Paulus Singaraja bagi saya sangat penting karena di sanalah tempat pertama kali benih iman dan panggilan ditaburkan… (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *