Salome: Korban Trauma, Polisi Minta Korban Didampingi P2TP2A

Ilustrasi

Ilustrasi

BALIEDITOR.COM – Hingga saat ini polisi masih kesulitan mengembangkan kasus dugaan pemerkosaan alias kasus Salome (satu lobang rame-rame) yang terjadi di Desa Sumberkima, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali, Kamis (7/4/2017) lalu.

Ini lantaran korban Mur masih trauma dengankejadian itu sehingga masih trauma. Polisi minta korban didampingi Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A).

Rencananya, Senin (10/4/2017) besok penyidik akan mendatangkan pendamping korban dari P2TP2A untuk mendampingi korban dalam pemeriksaan lanjutan. P2TP2A, merupakan pusat kegiatan terpadu yang didirikan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan menyediakan pelayanan bagi masyarakat terutama perempuan dan anak korban tindak kekerasan.

Sebelumnya, tiga pemuda tanggung dilaporkan telah melakukan pemerkosaan terhadap seorang gadis di toko Sarifa, milik Yuliati, di Banjar Dinas Sumberpao, Desa Sumberkima,Kamis (6/4/2017) sekitar pukul 14.00 wita.

Berdasarkan laporan korban diantar orang tuanya,diduga tiga pemuda tanggung yang diketahui bernama Junaidi alias Mohammad Ibrahim, Hilal dan Rizal Romadhon, 17, berpura-pura hendak membeli kopi. Tanpa ada kecurigaan korban lantas kebelakang mempersiapkan pesanan sembari mencuci gelas.Namun saat tengah mempersipakan pesanan pelaku diduga Ibrahim,mengikuti korban dan dengan cepat membekap korban lantas menyeretnya ke kamar mandi.

Dua orang lainnya,Hilal dan Romadhon memilintir tangan korban kebelakang dan memaksa membuka celana dalam korban hingga robek.Sambil menutup mata korban,ketiganya kemudian dengan leluasa memperkosa korban secara bergiliran.

Sumber di kepolisian menyebutkan,hingga Minggu (9/4/2017) belum ada kemajuan signifikan terkait dugaan pemerkosaan tersebut. Bahkan, ketiga pelaku saat ini sudah dibebaskan mengingat keterlibatan mereka dalam kasus dugaan pemerkosaan itu belum bisa di buktikan penyidik.

”Untuk sementara ketiganya sudah dibebaskan karena belum ditemukan bukti kuat adanya dugaan pemerkosaan seperti yang dilaporkan.Namun mereka dikenakan wajib lapor,”ujar sumber tersebut.

Berdasarkan hasil penyelidikan,berupa celana dalam dan gunting yang digunakan untuk merobek celana korban,menurut sumber tersebut,belum ada benang merah mengingat gunting tersebut ditemukan tersimpan dalam laci.”Antara barang bukti belum sinkron karena ditemukan ditempat yang berbeda.Sedang untuk klarifikasi belum memungkinkan karena kondisi korban yang masih trauma,”ujarnya.”Kita nanti akan croos chek keterangan korban dan pelaku termasuk kami masih menunggu hasil visum dari rumah sakit,” bebernya.

Bahkan untuk pemeriksaan lanjutan saksi korban,masih menurut sumber tersebut,akan di damping oleh pihak P2TP2A. ”Lembaga tersebut sudah dihubungi dan siap mendampingi pemeriksaan korban besok (hari ini,red),” jelasnya.

Kapolsek Gerokgak Kompol Gusti Alit Putra belum menjawab konfirmasi Balieditor.com saat dihubungi melalui sambungan telponnya. Bahkan,Alit Putra yang sebentar lagi posisinya sebagai Kapolsek Gerokgak diganti Kompol Rilo ini tidak membalas pesan singkat yang dikirim di nomornya.

Sementara itu, Kepala Dinas PPKBPP-PA Kabupaten Buleleng dr. Ni Made Sukarmini, M.AP, selaku lembaga yang menaungi P2TP2A, membenarkan pihaknya sudah di hubungi penyidik dari Polsek Gerokgak.

Bahkan, dr Sukarmini sudah menyiapkan personil yang akan ke Polsek Gerokgak mendapmingi korban. ”Besok yang akan mendampingi korban langsung Kepala Bidang PPTA pak Oka Sastra. Keterangan lebih rinci belum kami dapatkan yang jelas kami sudah siap mendampingi saksi korban,” pungkas Sukarmini. (cha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *