Sejarah: Monumen Perang Jagaraga Diresmikan

Foto Humas Pemkab Buleleng for Balieditor.com: Bupati Agus memotong pita tanda diresmikannya Monumen Puputan Jagaraga

Foto Humas Pemkab Buleleng for Balieditor.com: Bupati Agus memotong pita tanda diresmikannya Monumen Puputan Jagaraga

BALIEDITOR.COM – Bupati Buleleng, Bali, Putu Agus Suradnyana, Senin (13/2/2017) setelah kembali dari cuti kampanye, langsung melakukan peresmian marathon sejumlah proyek yang dibangun dengan anggaran tahun 2016.

Salah satu proyek yang diresmikan dalam safari peresmian proyek adalah Monumen Perang Jagaraja yang berlokasi di Desa Jagaraga, Kecamatan Sawan, sekitar 15 kilometer dari arah timur Kota Singaraja.

Di monumen itu berdiri patung dua tokoh pejuang perang Jagaraga, yakni Gusti Ketut Djelantik dan Jro Jempiring. Kedua tokoh dari trah Semeton Arya Pangalasan ini memegang peran penting dalam perang Jagaraga melawan Belanda pada tahun 1846 sampai 1849. Dibawah patung tersebut terdapat museum yang terdapat relief yang menceritakan perang Jagaraga pada saat itu.

Peresmiaan ini ditandai dengan pemotongan pita oleh Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana. Dilanjukan dengan peninjauan relief yang dipajang di dalam museum. Bupati Agus juga disuguhi pragmentari perang Jagaraga.

Bupati Agus mengatakan Monumen Perang Jagaraga ini dibangun untuk mengingatkan kepada masyarakat Buleleng tentang nilai-nilai sejarah. Selain itu, monumen ini akan ia gunakan untuk mengedukasi para pelajar yang ada di Buleleng.

“Saya akan minta kepada Kadis Pendidikan untuk mengagendakan para siswa untuk melakukan kunjungan pada hari jumat atau sabtu,” paparnya.

Ia berharap agar monumen yang merupakan kebanggaan bagi Kabupaten Buleleng ini bisa dijaga dengan baik. “Saya berharap Masyarakat Buleleng khususnya masyarakat Desa Jagaraga bisa bersama-sama dengan pemerintah menjaga situs bersejarah ini dengan baik,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Buleleng Drs. Gede Komang,M.Si mengatakan monumen ini merupakan impian yang dinanti oleh masyarakat Buleleng khususnya masyarakat Desa Jagaraga. Gede Komang menjelaskan, dalam pembangunan monumen ini hampir tidak ada kendala.

“Dalam pelaksanaan pembangunan hampir tidak ada kendala, namun ada satu kendala yaitu menentukan wajah dari Jro Jempiring. Kita sudah berusaha mencari kemana-mana namun tidak ada gambaran untuk wajah Jro Jempiring. Kita menyiasati dengan mencari keturunan dari Jro Jempiring untuk kita gunakan sebagai contoh wajah Jro Jempiring,” ujar pejabat yang pernah berdinas di negara tetangga, Timor Leste itu. (frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *