Senderan Tukad Buleleng Longsor, Satu Rumah Terancam Hanyut

Foto Balieditor.com-ngr: Rumah yang terancam hanyut

BALIEDITOR.COM – Senderan tukad (sungai) Buleleng yang persis berada sekitar 15 meter dari lokasi bendungan di sungai tersebut mengalami longsor saat perayaan Nyepi kemarin.

Hingga saat ini belum ada respon dari Dinas PUPR Kabupatem Buleleng, Bali.

Satu rumah yang berada persis di diatas senderan yang longsor itu, terancam jatuh ke sungai dan bakal hanyut bila banjir kembali terjadi.

Rumah yang terancam jatuh ke Tukad Buleleng itu ditempati oleh pasutri Made Tirta Yasa, 59,dan Ketut Pinarti, 51, berada di lingkungan Banyuning Barat, Kelurahan Banyuning, Buleleng.

Meski rumah yang selama ini ditinggali dari pemberian bos-nya terancam jatuh ke singai, mereka hanya bisa pasrah.

“Saya pasrah saya, mau berbuat apa lagi. Kalau sudah takdir dari tuhan rumah jatuh ke sungai, ya saya hanya bisa pasrah. Saya juga mau lapor, lapornya kemana? Terima saja sudah,” kata Pinarti dengan pasrah, Rabu (13/3/2019) di kediamannya.

Saat ini keberadaan lokasi rumah pasutri tersebut memang terbilang sudah tidak aman. Pasalnya, jarak rumahnya dengan titik longsornya senderan itu hanya beberapa meter saja. Menurut penuturan Pinarti, kejadian ini terjadi saat Nyepi sekitar pukul 19.00 wita, dimana saat itu air sungai mendadak besar, hingga membuat senderan sungai tingginya sekitar 15 meter dekat rumahnya jebol.

Bahkan, bagian dapur serta kamar mandi miliknya ikut jebol dan tergerus air. Karena suasana saat itu Nyepi, mereka pun tidak bisa berbuat apa sembari menunggu hari esoknya.

“Saat Nyepi aliran sungai deras sekali, banyak sampah-sampah kayu. Sempat ada getaran, sampai akhirnya kamar mandi dan dapur saya ikut amblas ke sungai. Semua peralatan dapur jatuh ke sungai,” ungkap Pinarti.

Dengan kondisi seperti itu, wanita yang telah dikaruniai 7 anak ini, untuk sekedar mandi saja terpaksa dilakukan di sungai. Meski belum mendapatkan penanganan dari pemerintah, Pinarti mengaku tidak merasa takut dan enggan mengungsi, padahal kondisi rumahnya sudah retak-retak.

“Kalau hujan lebat lagi, pasti sudag longsor dan rumah saya sudah pasti ikut tergerus. Tapi itu kan kuasa Tuhan saja, saya tidak mau mengungsi. Rumah saya hanya ada satu ini, itu pun pemberian bos,” ujar Pinarti yang menempati rumah itu untuk melakukan bersih-bersih.

Sementara Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng, Ida Bagus Suadnyana mengaku, belum mendapatkan laporan terkait dengan jebolnya senderan di Tukad Buleleng.

Menurut rencana pada Kamis (14/3/2019), pihaknya menurunkan tim untuk melakukan pengecekan. “Kalau di aliran sungai itu penanganannya oleh pihak BWS. Tapi nanti akan kami cek dan kami sampaikan kepada BWS,” pungkas Ida Bagus Suadnyana. (ngr/frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *