Siapa Somvir dan Siapa Nyoman Tirtawan? Sebuah Catatan Redaksi

Foto Balieditor.com/Grafis Junior: Tirtawan versus Somvir

BALIEDITOR.COM – JAGAT politik Bali bergetar dan goncang dalam empat setengah bulan terakhir pasca Pemilu 17 April 2019 lalu.

Dua figure politisi dari Bali Utara berbendera Partai NasDem yang mengoncang jagat politik Bali.

Kedua actor politik yang mengoncang Bali itu adalah DR Somvir dan Nyoman Tirtawan. DR Somvir adalah kader baru di Partai NasDem kelahiran India, sedang Tirtawan adalah kader senior Partai NasDem yang juga anggota DPRD Bali periode 2014-2019, kelahiran Bebetin, Kecamatan Sawan, Buleleng.

Pada tulisan ini redaksi Balieditor.com mengajak public terutama pembaca budiman untuk mengenal kedua sosok yang menghebohkan ranah politik Bali hingga nasional itu.

Siapakah DR Somvir? Berdasarkan info dari laman Komisi Pemilihan Umum (KPU), Caleg Nomor Urut 10 NASDEM ini lahir di Jakhala, 3 Maret 1970. Dia merupakan lulusan S3 yang berprofesi sebagai Swasta. Somvir juga berpindah kewarganegaraan pada zaman Gubernur Dewa Made Beratha.

Gede Suardana, S.Farm, dari LSM Forum Peduli Masyarakat Kecil (FPMK) Buleleng, itu mengisahkan perjalanan Somvir di jagat politik di Bali. Diungkapkan Suardana, DR. Somvir pernah nyaleg via PDIP untuk DPRD Bali pada Pemilu 2014 lalu.

“Somvir pernah nyaleg melalui PDIP Dapil Buleleng pada tahun 2014 terjegal hingga tak bisa nikmati duduk di kursi Dewan walaupun perolehan suaranya sangat tinggi,” tutur Suardana dalam cuitannya di FBnya.

Dalam pandangan aktivis anti korupsi ini, bagi politisi asal India ini, suara gampang didapat, ia tidak perlu simekrama, tak perlu turun ke masyarakat. “Cukup bawa sekoper uang maka suara akan datang dan Kursi ditangan,” sindir Suardana.
Pengalaman tahun 2014, dia ulang lagi di tahun 2019 melalui Partai NasDem yang didukung oleh elit Partai NasDem Buleleng dan Bali, tentunya dengan kekuatan uangnya.

Dalam wawancara dengan Balieditor.com di kediamannya di kawasan wisata Lovina, Buleleng, Rabu (24/4/2019) sore, anak angkatan mantan gubernur Bali DewaMade Berata itu mengaku bahwa suara maksimal yang ia raih itu bukan karena money politics tetapi itu hasil perawatan dan pemeliharaan Pendukungnya selama 4 tahun sejak ia gagal jadi anggota DPRD Bali 2014 lalu.

“Setelah gagal 2014 lalu, saya tetap memelihara pendukung saya. Dan mereka kompak sampai saat ini. Bahkan mereka yang berjanji memenangkan saya setelah saya dikerjain 2014 lalu,” pungkasnya.

Lalu, siapakah Nyoman Tirtawan? Berbeda dengan DR Somvir, politisi yang satu ini, Nyoman Tirtawan yang berangkat dari seorang aktivitis lingkungan, aktivis anti korupsi dan seorang pengusaha yang masuk dunia politik hingga menjadi anggota DPRD Provinsi Bali Dapil Buleleng period 2014-2019.

“Baik di luar maupun di dalam kekuasaan, dia tak pernah kehilangan jati diri. Dia tetap ingin melakukan perubahan walau itu sendiri, seperti perjuangannya menyelamatkan uang rakyat Rp 98 miliar dari mark-up dalam perencanaan oleh pelaksana Pilgub Bali 2018 (KPU Bali dan Bawaslu Bali) hingga dia dianggap duri dalam daging di gedung Dewan,” cerita Suardana.

Kini dia melihat apa yang dilakukan oleh Somvir dalam kompetisi di Pileg 2019 yang tidak sehat hingga menempuh semua jalur sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku, namun arus deras konspirasi sangat kuat hingga perjuangannya luar biasa alotnya.

Rakyat melihat
Faktanya jelas
Datanya valid
Saksi juga kuat
Namun tetap saja kandas oleh kekuatan Uang …

Inilah potret politik dan hukum di Indonesia yang sudah tak ada lagi menggunakan Hati Nurani atau Sang Jiwa dan Etika…

Kini menjadi catatan emas bagi kisah politik Bali dan nasional serta warisan tidak sehat bagi anak cucu di masa mendatang dalam tatanan negara yang kita cintai ini.

Maka inilah slogan puputan itu: Penyelamat Rp 98 miliar yang rakyat Bali versis Pelaku money politics, pelanggar PKPU (LPPDK NOL RUPIAH), pemain mahar politik, eksploitasi anak di bawha umur Singkat kata, Tirtawan vs Somvir cermin HUKUM sedang tercabik-cabik.

Terus bagaimana dengan NasDem?

Dengan tidak tersingkirnya Tirtawan secara tidak fair akibat money politics dan matinya rasa dan nurani masyarakat terhadap kebenaran dan kejujuran maka yang pertama menerima dampaknya adalah Partai NasDem sendiri.

“Partai NasDem rugi. Karena sikap politik Tirtawan yang mengutamakan transparansi dan kepentingan rakyat telah mengangkat nama dan citra NasDem di mata public sehingga dengan tergusur Tirtawan dengan cara tidak demokratis maka Partai NasDem telah kehilangan asset emas nan berharga tersebut,” beber Ngurah Fajar Kurniawan, tokoh mudah asal Sudaji, Kecamatan Sawan, Buleleng, terpisah.

“Teruntuk semua masyarakat Buleleng yang cerdas, berintegritas dan berkualitas wajib memilih Nyoman Tirtawan. Ternyata faktanya masyarakat bersikap fragmatis dengan menjatuhkan pilihan pada caleg situasional,” tandas Ngurah Fajar Kurniawan, tokoh mudah asal Desa Sudaji, Kecamatan Sawan, Buleleng.

Ketidakterpilihnya Tirtawan, menjadi berita duka mendalam bagi masyarakatBali yang masih berhati nurani dan menginginkan good governance dan clean governance.”Karena tidak lagi memiliki wakil rakyat di Renon yang berani lawan arus dengan mayoritas anggota dewan oportunis dan berani menantang kebijakan eksekutif,” pungkas Fajar.
Massa NasDem serta public Bali kecewa, ungkap Fajar, karena justru petinggi Nasdem yang mengusung politik tanpa mahar itulah yang malah menerima mahar dari DR Somvir sebesar Rp 130 juta untuk menyingkirkan Tirtawan.

“Kami sebagai rakyat kecil sangat kecewa karena Pak Nyoman Tirtawan yang selama ini tampil sebagai pahlawan bagi rakyat kecil malah disingkirkan dengan cara keji,” tandas Dewa Jack, salah seorang warga dari Kelurahan Kampung Anyar. (francelino xavier ximenes freitas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *