Soal Buldozer Sumur SMAN/K BM, Dewan Bali Kecam Sikap Arogansi Kelian Adat Kubutambahan

Foto Istimewa: Nyoman Sugawa Korry

Foto Istimewa: Nyoman Sugawa Korry

BALIEDITOR.COM – Aksi “koboi” Kelian Desa Pakraman Kubutambahan, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Bali, Jro Ketut Warkadea, yang berencana membuldozer sumur air untuk SMAN/SMKN Bali Mandara (BM) mendaoat kritikan daro berbagai kalangan.

DPRD Bali pun mengecam sikap arogansi Kelian Desa Adat Pakraman Kubutambahan, Jro Warkadea itu, Adalah Wakil Ketua DPRD Bali, DR Nyoman Sugawa Korry, SE, Ak, MM, yzng mengecam keras rencana pengerusakan sumber mata air yang digunakan untuk SMAn/SMKN Bali Mandara di Desa Kubutambahan.

“Ini langkah-langkah yang sangat tidak manusiawi. Ini sangat bertentangan dengan program Nawa Cita yang digagas oleh Jokowi (Presiden RI). Negara harus hadir untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat. Bukan malah menonton Pengerusakan atau penghancuran daripada masyarakat,” ujar Sugawa Korry kepada Balieditor.com di Kota Singaraja, Minggu (9/10/2016).

Bahkan Sugawa Korry meminta Kapolda Bali turun langsung ke Buleleng atau memerintahkan Kapolres Buleleng untuk mengusut dugaan adanya keterlibatan aktor intelektual dibalik aksi tersebut.

“Nah ini, media harus memunculkan. Itu menyangkut pendidikan orang miskin lho. Nanti kami minta agar Kapolres dan Kapolsek harus hadir didalam permasalahan itu. Dan kita usahakan Kapolda agar bisa turun tangan langsung untuk permasalahan itu,” kata Sugawa Korry.

Politisi Golkar itu mengaku sudah berkoordinasi dengan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Bali, Cok Istri Tia Kusuma Wardani. Kata dia, memang Desa Adat Kubutambahan sebelum sudha berkirim surat kepada pimpinan SMAN/SMKN Bali Mandara tentang pembersihan alur sungai.

“Katanya sudah kirim surat ke sekolah itu dan buldozer itu untuk membersihkan alur sungai. Tapi pertanyaan kenapa baru dipersoalkan sumber air itu? Padahal sumber air yang saat ini digunakan oleh SMA/SMK Bali Mandara pun bukanlah baru digunakan. Melainkan, keberadaan sumur bor yang menjadi sumber air tersebut sudah digunakan sejak tahun 1980 an oleh SPMA (Sekolah Pertanian Menengah Atas),” kritik dia..

Sugawa Korry menceritakan bahwa Kadisdikpora Bali Kusuma Wardani sudah ada upaya untuk mengikuti kemauan pihak adat. Kadisdikpora minta waktu sampai Desember 2016 untuk mencari alternatif lain. Tapi kalau tidak menemukan alternatif baru, Sugawa Korry minta Desa Pakraman Kubutambahan pun harus bijak dan jangan main gusur.

“Kami sudah coba ikuti keinginan pihak adat di Desa Kubutambahan. Dan kini kemarin sudah melakukan pengeboran. Tapi mata bor dan alatnya mengalami kerusakan karena kondisi lapisan bawah adalah bebatuan. Kami minta waktu sampai akhir Desember 2016 kepada pihak Desa Adat,” ujar Kusuma Wardani yang menceritakan rencana pengerusakan tersebut sebelumnya. (frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *