Tahun Baru 2017: Renungan Doa Syukur Akhir Tahun Disampaikan Romo J Tanumiarja Nyoman, SVD

Foto-Foto  Balieditor.com-frs: Romo J Tanumiarja Nyoman, SVD

Foto-Foto Balieditor.com-frs: Romo J Tanumiarja Nyoman, SVD

BALIEDITOR.COM – Perayaan Tahun Baru atau perayaaan malam pergantian tahun bukan milik kelompok atau strata masyarakat tertentu, tetapi sudah menjadi perayaan universal yang dirayakan secara bersama-sama oleh semua insan di muka bumi ini tanpa memandang sekat etnis, asal-usul budaya, agama, maupun starate ekonomi.

Pada perayaan malam pergantian tahun Sabtu (31/12/2016), Romo J Tanumiarja Nyoman, SVD, menyampaikan renungan doa syukur akhir tahun yang dibacakan pada doa syukur akhir tahun yang digelar secara bersama-sama di sejumlah titik perayaan.

Karena renungan doa syukur akhir tahun ini juga bersifat universal sehingga redaksi Balieditor.com menurunkan secara utuh agar menjadi bahan renungan dan panduan bagi pembaca setia Balieditor.com. Berikut renungan doa syukur akhir tahun yang disampaikan Romo J Tanumiarja Nyoman, SVD:

foto-yan

Bapak -ibu, saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Sebagai makluk ciptaan yang paling luhur martabatnya, dan sebagai orang-orang yang terpanggil secara khusus untuk melaksanakan ajaran kasih Kristus, tidaklah baik apabila kita melupakan Tuhan di pengujung tahun. Seharusnya syukur kita memuncak pada saat seperti ini dalam bentuk Perayaan Ekaristi, namun sikon hanya mengizinkan sebatas Upacara Sabda saja. Tidak kenapa, karena Tuhan yang tersembunyi di balik sikon adalah Aktor tunggal, yang kita imani sebagai ‘Yang Mahabijaksana’.

Saudara: orang banyak, khususnya kawula muda, menyambut pergantian tahun, atau peralihan waktu tahunan ini dengan meriah. Pesta kembang api, suara petasan ataupun bunyi terompet biasanya mewarnai saat penting dan genting seperti itu. Ada yang mengajak teman-temannya membuat acara-acara khusus seperti pesta bakar ikan, jagung bakar, diiringi suara gaduh musik yang memekakkan telinga berdatangan dari panggung-panggung di pinggir, yang khusus dibuat untuk maksud tersebut. Tentu saja dengan izin aparat keamanan. Dan … tidak jarang terjadi ekses ini dan itu …

Para biarawan-biarawati biasanya menyongsong saat sekali setahun itu dengan berdoa bersama. Di Indonesia ini, melalui layar kaca, kita bisa menyaksikan 3 kali pergantian waktu, asalkan tidak mengantuk, bagaimana para warga menyambut tibanya saat itu, sesuai dengan pembagian waktu: Timur, Tengah dan Barat, di negara kepulauan yang membentang sangat luas ini. Rasa-rasanya ingin kita menyaksikan ketiga-tiganya agar adil, menanti sampai bunyi syrine baik di darat ataupun pada kapal-kapal di laut berkumandang panjang, menandakan bahwa saat yang ditunggu-tunggu kini telah tiba. Orang-orang yang sedang tidur lelap diajak bangun menyaksikan pesta kembang api, agar betul-betul sadar dan tidak bermimpi, bahwa tahun lama sedang bergulir ke tahun yang baru, yang masih fresh dan menyimpan banyak harapan.

Saudara-saudara: kenapa antusiasme orang banyak begitu besar pada saat seperti itu? Bukankah sebagai sebuah tengah malam, ia sama saja dengan waktu tengah malam yang lain? Sadar tidak sadar, sesungguhnya orang ingin bersyukur kepada Sang Pencipta, yang telah menganugerahkan waktu dan kesempatan untuk hidup selama satu tahunSaudara-saudara, kenapa antusiasme orang banyak begitu besar pada saat seperti itu? Bukankah sebagai sebuah tengah malam, ia sama saja dengan waktu tengah malam yang lain? Sadar tidak sadar, sesungguhnya orang ingin bersyukur kepada Sang Pencipta, yang telah menganugerahkan waktu dan kesempatan untuk hidup selama satu tahun, dengan segala suka dukanya, terhitung sejak Tahun Baru setahun lalu.

Kini di pengunjung tahun, ia masih hidup dan siap memasuki waktu setahun lagi. Lupakan segala duka, hapus semua air mata sesaat adakan acara dan mari bergembira agar tidak menjadi orang yang pesimistis. Kita masih dipelihara Tuhan, masih diperkenankan hidup oleh Sang Pencipta. Mengenai soal bentuk dan caranya, bagaimana mengekspresikan luapan kegembiraan hati saat itu hanyalah satu modus saja, yang diharapkan bisa maksimal dan bisa memberikan kepuasaan yang sempurna. Entah itu sudah betul begitu atau belum, itu diserahkan keada kualitas iman orang atau kelompok yang bersangkutan. Yang jelas, yakni kalau sampai terjadi ekses, itu sudah tidak benar, sebab ekses itu selalu merugikan keselamatan.

Sebagai orang-orang yang beriman, mari kita menyongsong tibanya saat pergantian waktu itu dengan berdoa syukur atas segala peristiwa yang telah terjadi di tahun ini. Sebagai renungan pribadi, baiklah kita membuat satu kaledoskop peristiwa-peristiwa yang kita alami selama tahun 2016 ini, agar syukur hati kita lebih mendasar dan tidak asal-asal, tidak abal-abal.

Perlu diingat bahwa juga pada saat-saat seperti ini setan giat bekerja mengajak kita malas bersyukur atau bersyukur dengan cara yang keliru, mengeksploitasi saat itu begitu rupa sampai terjadi ekses yang merugikan keselamatan.

Semoga syukur kita pada malam ini bisa maksimal tanpa keluar batas, agar Tuhan berkenan dengan syukur yang benar, yang kita panjatkan pada saat yang tampan. Dengan demikian maka Tuhan akan memberikan hari esok yang lebih baik yang bermakna berkat.

Selamat menyongsong tibanya Tahun Baru 2017, Tuhan memberkati kita semua. Amin. (francelino xavier ximenes freitas)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *