Tender Proyek Kisruh: “Amah Leak Sanur”, Rekanan Buleleng Mati Suri

Foto Balieditor.com-frs: Sekretaris BPC Gapensi Buleleng, Ketut Budi Adnyana

Foto Balieditor.com-frs: Sekretaris BPC Gapensi Buleleng, Ketut Budi Adnyana

BALIEDITOR.COM – Ternyata penggunaan teknologi dalam melakukan tender projek tidak setransparan yang diimpikan selama ini. Justru kecanggihan teknologi itu dimanfaatkan oleh kelompok kerja (Pokja) Badan Layanan Pengadaan (BLP) untuk melakukan kongkalikong dalam penentuan pemenang tender.

Tragisnya, Pokja-Pokja BLP Buleleng malah bersikap diskriminatif terhadap rekanan-rekanan dari Kabupaten Buleleng sendiri. Pokja-Pokja BLP Buleleng selalu mencari dalih untuk mengkandaskan rekanan local dan memenangkan rekanan-rekanan yang datang dari luar Buleleng yang diduga kuat memiliki link dengan pejabat di Buleleng.

Sebagai bukti BPC Gapensi Buleleng, Bali, langsung mengadukan ulah Pokja BLP Buleleng ke Inspektorat Kabupaten Buleleng karena ada beberapa perusahaan anggota BPC Gapendi Buleleng dikandaskan oleh Pokja BLP Buleleng dengan alasan yang tidak masuk akal.

Sekretaris BPC Gapensi Buleleng, Ketut Budi Adnyana, kepada Balieditor.com di ruang kerjanya di Jalan Gunung Agung Singaraja membongkar dosa-dosa Pokja BLP Buleleng, Jumat (16/6/2017) siang.

Budi Adnyana mengungkapkan bahwa ada 15 paket tender yang dibuka oleh BLP Buleleng. Kelima belas paket itu adalah proyek irigasi yang hancur akibat bencana alam awal tahun 2017 lalu itu.

Pria asal Kampung Baru itu menyebutkan bahwa dari 15 paket itu dilakukan lelang atau tender dalam dua tahap. Tender tahap pertama dilaksanakan pada tanggal 22 Mei 2017 dengan 8 paket proyek yang ditenderkan. “Lelang tahap II awalnya direncanakan tanggal 29 Mei tetapi dundur menjadi 2 Juni 2017. Sebanyak 7 paket tender sehingga totalnya 15 paket,” paparnya.

Sayang, Pokja I, Pokja II dan Pokja III mempunyai interprestasi terhadap persyaratan tender yang berbeda. Mereka tidak menetapkan persyaratan tender sesuai aturan tetapi persyaratan ditetapkan sesuai interpretasi masing-masing. “Makanya antara persyaratan antara Pokja I, II dan III tidak sama. Mereka buat persyaratan sesuai interpretasi masing-masing. Akibatnya rekanan Buleleng yang menjadi korban,” kritik Budi Adnyana.

Lucunya, dua rekanan dengan penawaran terendah di masing-masing paket tender asal Buleleng malah digugurkan. Pokja BLP Buleleng malah memenangkan rekanan asal luar Buleleng yang berada di urutan ketiga dan urutan keempat.

Keduanya rekanan asal Buleleng yang menjadi korban kongkalikung Pokja BLP Buleleng adalah CV Santosa dan CV Taman Sari Mekar. “Alasannya tidak masuk akal. Katanya lembar pertama tidak disahkan oleh notaris. Itu kan bukan subtansial,” kritik Budi Adnyana.

“Padahal tahun lalu kedua rekanan itu menggunakan dokumen yang sama justru lolos dan memenangkan proyek dan dikerjakan sampai selesai. Kok sekarang tidak boleh, ada apa ini? Ini menjadi pertanyaan kami,” tandasnya.

Kejanggalan lain yang ditemukan Gapensi Buleleng dalam menggugurkan anggotanya adalah tanpa ada klarifikasi alas an kenapa rekanann peserta tender itu gugur. “Kalau gugur ya harus ada penjelasan, harus ada alasannya. Bukan menggugurkan rekanan itu tanpa klarifikasi,” kritiknya.

Budi Adnyana juga mempertanyakan dokumen dari rekanan-rekanan dari luar Buleleng yag selalu dimenangkan Pokja BLP. “Apakah rekanan dari luar yang lolos itu juga sudah memenuhi persyaratan? Ayo mari kita buka ke public dan transparan, benar dokumen mereka juga memenuhi,” tandasnya.

Kata Budi Adnyana, selama ini ada pameo yang sudah menjadi rahasia umum di kalangan kontraktor atau rekanan yang mencari pekerjaan di Buleleng. Pameo itu amat melecehkan rekanan dari Buleleng. “Sudah sering kami dengar dari rekanan dari luar, mereka bilang,’Silahkan rekanan dari Buleleng penawaranya kecil, tapi toh kita tetap memang, mereka tetap saja kalah kok.’ Itu sudah sering kami dengar ucapan seperti itu. Ini artinya apa?” ungkap Budi Adnyana.

“Ini namanya, ‘amah leak Sanur, rekanan Buleleng mati suri,” ujar seorang wartawan berkelakar. (frs)

One thought on “Tender Proyek Kisruh: “Amah Leak Sanur”, Rekanan Buleleng Mati Suri

  • Sejak menjelang pilkada proyek2 sdh terarah ke Bali selatan pemenangnya.
    Namun rekanan Buleleng ga juga “NGEH”
    proyek2 di Buleleng sdh diatur dari hulu sampaivke hilir.
    Dari persyaratan lelang sdh diatur sedemikian rupa, shg rekanan lokal tdk kan mampu mengikutinya. Lihat proyek IRD tahap l dan ll, KOLAM RENANG PIDADA,RS PRATAMA TANGGUWISIA DAN GIRI MAS, juga MONUMEN JAGARAGA..
    siapa pemenangnya. Masysrakat bisa jawsb sendiri.
    Semua itu hanya permainan SETAN2 GUNDUL yg lg haus mau mengambil darahnya Masyarakat Buleleng brrkedok membangun Buleleng..
    Perlu Masyarakat dan wskil rakyat Bukeleng ketahui.
    Kenapa HGB PT.PRAPAT AGUNG di Gerokgak tibs2 terbit HGB Baru setelah mati tanpa batas ?
    Ada apa ini? Adakah pendapatan yg masuk ke Kas Daerah atas terbitnya HGB tsb??
    Wakil kita di DPRD Buleleng diem seribu bahasa, petanda mereka sdh “KEBAGIAN” atau memang “LENGEH” shg tdk mampu melihat, mengawasi serta mengevaluasi sampai sejauh itu..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *