Tirtawan: “Bali Butuh Kurikulum Lingkungan, Bukan Seremonial Musiman”

Foto Dok Balieditor.com: Clean Up TNBB Bersama Tirtawan, beberapa waktu lalu

BALIEDITOR.COM – Sampah menjadi musuh bersama hingga akhirnya ditetapkan World Clean Up Day. Hanya saja sampah di Bali tidak akan bersih kalau tidak diikuti konsep dan langkah nyata yang tepat dan terstruktur.

Aktivis lungkungan Nyoman Tirtawan menawarkan sejumlah konsep penanganan sampah secara kontinyu dan simultan.

Mantan vokalis DPRD Bali periode 2014-2019 dari NasDem ini menyatakan bahwa penanganan sampah di Bali tidak dengan ritual dan acara seremonial musiman. “Membersihkan sampah Bali bukan dengan ritual dan ceremonial musiman saja!
Harus dengan sistem dan struktur yang kongkrit serta menyeluruh,” ujar Tirtawan kepada Balieditor.com, Sabtu (21/9/2019) via WhatsApp.

Kata dia, menjaga lingkungan bersih bukan sekedar pada aksi kumpul sampah tetapi lebih penting adalah pembentukan habit atau kebiasaan pada anak dari usia dini. Maka itu, Tirtawan menyarankan agar masalah lingkungan (sampah) dimasukkan dalam kurikulum sekolah sebagai muatan lokal.

“Menanamkan fondasi sejak usia dini tentang lingkungan untuk pembentukan habit karakter gẻnerasi yang aware (peduli lingkungan). Maka sangat penting dan urgen ‘Kurikulum Lingkungan’ masuk ke elemen pendidikan sejak TK sampai dengan SLTA,” tandas Tirtawan.

Kata dia, “Sekarang ini Negara rugi mendidik generasi Sarjana sampai Profesor tapi out put nya justru lingkungan jorok, kotor karena habit yang đidapat sebatas tẻori.
Negara tidak bisa mengharapkan gẻnerasi bangsa yang baik dan berkualitas tanpa menanamkan kultur/budaya bersih jika tidak dimulai sejak úsia dini.”

“Pasalnya, adakah pemimpin yang mental dan jiwanya terpanggil untuk sungguh-sungguh mẹnjaga dan melestarikan kebersihan lingkungan?” tegas Tirtawan lagi

Maka itu, papar dia, lingkungan harus masuk dalam kurikulum sekolah sebagai muatan local. Sehingga habit menjaga kebersihan, kebiasaan buang sampah di tempatnya dam rasa malu membuang sampah sembarangan itu wajib ditransformasi sejak usia dini dimulai masuk TK sampai dengan S1.
“Metode pembentukan karakter gểnerasi harus ditanamkan dengan sístem yang kongkrit, brain wash (cuci otak/fikiran) sejak kecil dengan secara langsung membiasakan bersih-bersih lingkungan. Karena mengubah kebiasaan sangat sulit, dimana anak didik dan guru pun kebanyakan tidak peduli lingkungan yang bisanya hanya menghafal teori dan praktiknya bertolak belakang,” urainya.

Tirtawan yakin danpercaya bahwa jika saja dari awal sampai dewasa terbiasa berteori dan praktik langsung tentang kebersihan dan pembersihan lingkungan dipastikan Bali bersih secara nyata bukan bersih secara slogan belaka.

“Itulah sebabnya perlu kurikulum lingkungan hrs dimasukan ke setiap elemen pendidikan,” tandasnya lagi.

Tirtawa kemudian memberikan simulai dan gambaran bahwa wajah Bali bakal berseri-seri karena berrsih bila setiap hari Sabtu jutaan siswa Bali membersihkan Pulau Dewata secara kontinyu.

“Hasilnya, pertama Bali bersih less cost; kedua, pembentukan karakter generasi peduli lingkungan secara kongkrit; ketiga, jika diuangkan/gajih 1 siswa 2 jam bersih-bersih, umpama diupah Rp 10.000 X 4 x 12 = Rp 480.000.000.000 miliar. Tapi ini gratis! Karena aksi bersih-bersih yang dilakukan para siswa itu merupakan kewajiban karena sudah tercantum dalam kurikulum,” urai Tirtawan lagi.

Bahkan saat masih menjadi anggota DPRD Bali lalu, Tirtawan mengaku sudah mengusulkan konsep itu kepada Gubernur Bali melalui staf ahli gubernur. “Saya sudah usulkan ke Tìm Ahli Gubernur termasuk saya lakukan interupsi agar lingkungan dimasukkan dalam kurikulum sebagai muatan local yang mengandung teori dan praktik bersih-bersih lingkungan bagi siswa-siswa dari TK hingga S1,” pungkas Tirtawan. (frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *