Tragedi Kantin 21: Dituding Lindungi Pelaku, Polres Buleleng Akhirnya Tangkap Kawi

Foto Balieditor.com-frs: Kasatreskrim Mikael (depan kemeja putih) memberikan keterangan pers

BALIEDITOR.COM – Gerah juga disodok via medsos, akhirnya Satreskrim Polres Buleleng, Bali, beraksi.

Karena info yang viral di medsos menyebutkan Polres Buleleng terindikasi kuat melindungi pelaku penganiayaan ‘tragedi’ Kantin 21, Lovina, karena ada kedekatan sehingga korban melaporkan ke Mapolda Bali di Denpasar.

Kasatreskrim Polres Buleleng, AKP Mikael Hutabarat, SH, SIK, MH, gerah dan langsung menurunkan Tim Buser memburu para pelaku. Akhirnya salah satu pelaku pun ditangkap. Pelaku itu bernama Ketut Budi Arjana alias Kawi pertanggal 31 Mei 2019 lalu.

Senin (10/6/2019) siang Kasat Mikael langsung memimpin acara jumpa pers tentang penangkapan Kawi sekaligus membantah semua tudingan yang menjadi viral di medsos beberapa pekan terakhir ini.

“Kami sudah mengkonfirmasi kepada si korban, dan korban menyatakan belum pernah melapor ke Polda Bali. Dia tidak pernah komplain kemana-mana, mempercayakan sepenuhnya kepada penyidik Polres Buleleng,” tandas Mikael didampingi Kasubbaghumas Polres Buleleng Iptu Gede Sumarjaya, SH.

“Tolong diluruskan informasi yang viral di medsos itu. Tidak ada laporan korban ke Polda dan ia percayakan sepenuhnya kepada Satreskrim Polres Buleleng,” tandas Mikael lagi dengan nada tinggi dan wajah serius.

Perwira yang jarang menghadiri jumpa pers dengan wartawan di Mapolres Buleleng itu memaparkan panjang lebar tentang kronologis kejadian di Kantin 21 di kawasan pusat pariwisata Lovina itu.

“Kejadian itu terjadi tanggal 19 Mei 2019 dinihari sekitar pukul 01.00 wita. Korbannya bernama Agus Tjahjono, 49, alias Koko. Korban dipukul dengan botol dan mengenai kepala,” paparnya.

Kasus itu baru dilaporkan oleh korban Koko pada tanggal 23 Mei 2019. “Lalu kita melakukan penyelidikan dan mengamankan pelaku 31 Mei 2019. Menurut korban ada lima orang melakukan penganiayaan namun kita baru menetapakn satu orang sebagai tersangka. Karena berdasar alat bukti permulaan yang cukup, ia melakukan tindak pidana penganiayaan,” papar Mikael lagi.

Apa motif aksi penganiayaan? “Ini cuma salah paham. Ada ketersinggungan,” jawab Mikael. (frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *