Tukadmunggagate: Krama Bakal Nglurug Bupati Buleleng

Foto Ist: Krama bongkar pagar yang dipasang Angker

BALIEDITOR.COM – Mediasi antara pegang sertifikat I Wayan Angker dengan krama Desa Pakraman Dharmajati, Desa Dinas Tukadmungga, Lovina, gagal.

Gugatan yang dlayangkan krama Desa Pakramam Dharmajati pun dilanjukan dan rencananya sidang perdana bakal digelar Selasa (14/5/2019) mendatang.

Menariknya ada kabar berkembang bahwa krama Desa Pakraman Dharmajati pun akan menggelar aksi demo ke Bupati Buleleng.

Kabar demo ke Bupati Buleleng itu dibenarkan Perbekel Tukadmungga Putu Madia. Kata dia, aksi demo itu diputuskan bersama masyarakat dalam musyawarah.

“Sebagai pejabat desa setelah melakukan musyawarah dengan masyarakat Desa Tukadmungga, diputuskan masyarakatnya akan segera menggelar audensi ke kantor Bupati Buleleng untuk memohon tanah tersebut kembali ke Desa Adat Dharmajati,” ujarnya kepada wartawan, Sabtu (11/5/2019).

Perbekel Madia dan Kelian Desa Pakraman Dharmajati Ketut Wicana menuturkan bahwa dalam proses pengajuan permohonan sertifikat ke BPN, Wayan Angker tidak pernah melalui proses di Desa Pakraman Dharmajati.

”Tidak melibatkan adat dan kepala desa. Kita sempat panggil seluruh mantan pejabat di desa Tukadmungga melalui paruman di wantilan Pura Desa, dengan jelas dan tegas mengatakan tidak pernah tanda tangan atas pemohonan sertifikat yang dimohon Wayan Angker,” papar Madia.

Diceritakan, tanah tersebut dulu digunakan oleh krama adat untuk pelaksanaan melasti( upacara Adat), dan dibanguni gubuk oleh 5 orang warga dari Tukadmungga di pesisir pantai.

“Lalu yang menjual tanah ialah Gede Saria keluarga pejabat di Pemaron. Menurut keterangan mekel Pemaron bahwa pamannya Gede Saria tidak menjual tanah itu sampai ke pesisir pantai cuman menjual sawahnya saja sampai batas pundukan( jalan) sawah,” cerita Madia. (frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *