Wabup Sutjidra Ajak Masyarakat Pertahankan Tradisi Warisan Leluhur

Foto Humas Pemkab Buleleng for Balieditor.com: Acara megibung

BALIEDITOR.COM – Wakil Bupati Buleleng, Bali, I Nyoman Sutjidra, mengajak seluruh masyarakat Buleleng untuk terus mempertahankan warisan budaya leluhur, seperti yang terlihat pada upacara negakang/megibung (makan bersama) di Desa Sambirenteng, Kecamatan Tejakula, Minggu (6/1/2019).

Kata dia, Acara megibung ini merupakan tradisi warisan dari leluhur yang bertujuan untuk mempersatukan masyarakat agar dapat menjalin hubungan yang baik antara satu dengan yang lainnya sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Usai kegiatan Wabup Nyoman Sutjidra mengatakan, tradisi megibung ini merupakan tradisi yang sangat unik sehingga perlu dipertahankan, karena tradisi ini bagian dari warisan leluhur khususnya di desa Sambirenteng ini.

“Banyak keunikan yang diperlihatkan di acara megibung ini, salah satunya adalah seluruh masyarakat yang hadir bisa duduk bersama di areal Jaba Pura, dan menikmati hidangan bersama-sama dengan suasana yang harmonis,“ ungkapnya seperti dilansir Humas Pemkab Buleleng.

Baca Juga:  Disbud Buleleng Gelar Pagelaran Seni Topeng dan Barong

Dia menambahkan, selain mampu mempersatukan dan mengeratkan tali persaudaraan tradisi megibung ini berbeda dengan tradisi megibung yang ada di Bali pada umumnya. “Uniknya, setiap warga membawa nasi dari rumah dan dihidangkan bersama-sama, dan juga ayam yang dimakan adalah hasil dari tradisi adu ayam yang dilakukan oleh warga desa Sambirenteng,” rambahnya.

Kelian Desa Pakraman Sambirenteng Jro Nengah Mas mengatakan, dilaksanakannya tradisi megibung ini tiada lain untuk melanjutkan dan mempertahankan warisan budaya leluhur yang sudah dilaksanakan secara turun temurun.

Diceritakan Nengah Mas, dulunya saat akan memasuki tilem kapitu ada hal-hal aneh yang terjadi di Desa Sambirenteng, lalu penglingsir-penglingsir/leluhur melaksanakan semedi dan dari semedi itu mendapat pawisik (petunjuk) bahwa harus diadakan pecaruan cak-cakan (sebagai simbul manusia dengan manusia). Dari pawisik tersebut Kemudian diadakanlah upacara megibung yang jatuh pada tilem kapitu setiap tahunnya.

Baca Juga:  HUT Kota Singaraja: 22 Tim Ikuti Lomba Mejejaitan

“Diawali dengan upacara pejati di pura sanggah desa, adu ayam, lalu ayam yang kalah di persembahkan untuk pegibungan masyarakat,” jelas Nengah Mas.

Nengah Mas mengatakan, tujuan dari tradisi ini tiadalain untuk mengumpulkan masyarakat agar dapat menjalin hubungan yang baik antara satu dengan yang lainnya, sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. “Dalam aturannya, satu pegibungan ini terdiri dari delapan orang karena diambil dari pemahaman Asta Dala dalam ajaran Agama Hindu, “ pungkasnya.

Dalam kesempatan itu tampak hadir dan berbaur bersama masyarakat Desa Pakraman Sambirenteng Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Gede Supriatna, SH, Direktur Utama PDAM Kabupaten Buleleng I Made Lestariana, SE, Kabag Humas dan Protokol Setda Kabupaten Buleleng Ketut Suwarmawan, S.Stp, MM, dan Camat Tejakula Drs. Nyoman Widiartha. (frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *